kelompok : 6
anggota : 1.Kartika
2.Nurhasanah B
3.Rika Amubina
4.Siti Fatimah
5.Suminar
Memprihatinkan! Mengawali tahun ajaran
baru dan bulan puasa, tawuran di beberapa sekolah negeri Jakarta muncul lagi.
Tawuran menunjukkan lemahnya
kepemimpinan, kultur sekolah, dan ketidakhadiran negara (dalam bentuk ketidakberdayaannya
aparat kepolisian) dalam menyikapi persoalan serius ini. Pendidikan karakter
dalam konteks tawuran tidak bisa diatasi dengan imbauan, pembuatan kesepakatan
damai antarsiswa atau sekolah, tetapi dengan pendekatan yang lebih komprehensif
dan komitmen dari banyak pihak. Maka, kultur pendidikan karakter yang nyaman
dan aman (caring community) di sekolah tidak bisa ditawar lagi!
Tanggung jawab minim
Tradisi tawuran di SMA yang sudah
terjadi bertahun-tahun menunjukkan minimnya kesadaran dan tanggung jawab
pemimpin sekolah terhadap lembaga pendidikan yang dikelolanya. Memang, di sisi
lain tawuran pelajar sering terjadi selepas jam sekolah, bahkan pada sore hari,
sehingga secara lokalitas sudah di luar batas pagar sekolah.
Mengapa terjadi terus-menerus?
Berkelanjutannya aksi tawuran ini karena para pemimpin sekolah kurang memiliki
rasa tanggung jawab atas persoalan penting di sekolahnya. Tidak bisa pemimpin
sekolah hanya berujar, ”Kejadian itu di luar lingkup sekolah, maka kami tidak
ikut bertanggung jawab!” Sikap seperti ini mengerdilkan tanggung jawab pemimpin
pendidikan dalam membentuk karakter siswa.
Pendekatan ritual, yang menekankan
pembuatan kesepakatan damai antarpihak sekolah yang berselisih, tidak akan
efektif karena perubahan untuk pembentukan karakter tidak cukup hanya
mengandalkan selembar kertas yang ditandatangani bersama. Yang dibutuhkan
adalah pembelajaran bersama antarsekolah dan antarsiswa tentang pentingnya
membangun sikap damai dan menghargai individu itu sebagai makhluk bermartabat,
bukan benda atau barang yang bisa dirusak setiap saat.
Kultur sekolah lemah
Selain unsur kepemimpinan, pendidikan
karakter yang efektif akan terjadi ketika setiap individu dalam lembaga
pendidikan merasa aman dan nyaman bersekolah. Tanpa perasaan itu, prestasi
akademis siswa akan menurun. Siswa juga tidak dapat belajar dengan baik karena
selalu dihantui rasa waswas, apakah mereka akan selamat saat berangkat atau
pulang sekolah.
Perasaan aman dan nyaman akan muncul
bila setiap individu yang menjadi anggota komunitas sekolah merasa dihargai,
dimanusiakan, dan dianggap bernilai kehadirannya dalam lingkungan pendidikan.
Masalahnya adalah, budaya kekerasan telah merambah ke seluruh lapisan
masyarakat kita, menggerus kultur sekolah dengan wujud yang berbeda. Misalnya,
ketika lembaga pendidikan menerapkan sistem katrol nilai, di sini telah terjadi
ketidakadilan dan pelecehan terhadap kinerja individu. Mereka yang gigih
belajar dan mendapatkan nilai baik, tidak berbeda dengan yang tidak gigih
belajar, malas, karena mereka dikatrol sehingga nilainya juga baik.
Kultur sekolah ini sesungguhnya
bertentangan dengan prinsip penghargaan terhadap individu. Individu telah
dimanipulasi sebagai alat pemenangan nama baik sekolah melalui sistem katrol.
Dengan demikian, sekolah seolah-olah memberi citra bahwa pendidikan di sekolah
itu baik dan ini terbukti dari kelulusan atau kenaikan kelas 100 persen.
Menghargai individu sesuai dengan
harkat dan martabatnya, serta menghargai sesuai dengan jasa dan usahanya dalam
belajar, merupakan sebentuk praktik keadilan. Praksis keadilan yang terjadi
dalam lingkungan pendidikan akan membuat individu itu nyaman dan semakin
termotivasi dalam meningkatkan keunggulan akademik. Ketika kebanggaan pada
kualitas akademis berkurang, siswa mencari pembenaran dengan penghargaan diri
palsu di luar, termasuk tawuran.
Ketidakhadiran negara
Fenomena tawuran menjadi indikasi jelas
bahwa negara tidak hadir, bahkan cenderung membiarkan dan mengafirmasi
kekeliruan pemahaman bahwa bila suatu tindak kejahatan dilakukan bersama-sama,
maka hal ini dapat dibenarkan.
Ketika aparat kepolisian hanya diam
saja berhadapan dengan kegarangan siswa yang membawa golok, rantai, dan bambu
runcing di jalanan, saat itulah sebenarnya aparat kepolisian menelanjangi diri
dan menunjukkan bahwa negara absen.
Pendidikan karakter yang efektif
mensyaratkan peran serta komunitas di luar sekolah sebagai rekan strategis
dalam pengembangan pendidikan. Karena itu, peran serta komunitas, seperti
media, orangtua, aparat kepolisian, pejabat pemerintah, dalam upaya mengikis
perilaku tawuran sangatlah diperlukan. Negara seharusnya tetap hadir dan
menjadi pendidik masyarakat untuk menaati ketertiban dan hukum.
Untuk mengatasi persoalan tawuran dan
menghentikan rantai kekerasan, kiranya ada beberapa solusi.
Pertama, kehadiran negara sangat
diperlukan agar pendidikan karakter yang dicanangkan Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan semakin efektif. Untuk mengatasi tawuran pelajar, ketegasan aparat
sangat diperlukan karena kebiasaan tawuran itu membahayakan diri dan orang
lain. Kepolisian harus bekerja sama dengan sekolah untuk mengembangkan budaya
tertib hukum dan taat aturan. Sikap reaktif, menangkap pelajar yang terlibat
tawuran, memang dibutuhkan, tetapi sikap preventif- edukatif melalui kerja sama
dengan pihak sekolah lebih penting karena akan mengatasi persoalan pada
akarnya.
Kedua, sikap tegas pemerintah.
Pemerintah juga perlu bersikap tegas terhadap unsur kepemimpinan sekolah, baik
itu di sekolah negeri maupun swasta. Pimpinan sekolah yang sekolahnya selalu
terlibat tawuran perlu diganti karena kepemimpinan mereka terbukti tidak
efektif.
Namun, pemerintah juga perlu hati-hati
mengganti unsur kepala sekolah karena di dalam lingkungan sekolah pun bisa jadi
ada persaingan tidak sehat yang memanfaatkan tawuran sebagai usaha memancing di
air keruh demi kepentingan pribadi.
Peran komunitas sekolah
Ketiga, pendidikan karakter akan
efektif kalau seluruh komunitas sekolah merasa dilibatkan. Ini berarti, mulai
dari penjaga keamanan, tukang kebun, pegawai kantin sekolah, guru, karyawan
nonpendidikan, staf guru, kepala sekolah, dan lain lain, harus mengerti tugas
dan tanggung jawab mereka, terutama yang terkait dengan pengembangan kultur
cinta damai dalam lembaga pendidikan.
Perilaku kekerasan terhadap fisik orang
lain merupakan bentuk nyata tidak dihargainya individu sebagai pribadi yang
bernilai dan berharga. Pendidikan mestinya mengajarkan bahwa setiap individu
itu berharga dan bernilai dalam dirinya sendiri.
Siapa pun tidak pernah boleh
memanipulasi dan mempergunakan bahkan merusak tubuh orang lain dengan alasan
apa pun. Tawuran pelajar merupakan tanda bahwa penghargaan terhadap tubuh di
lingkungan pendidikan kita masih lemah. Padahal, penghargaan terhadap tubuh ini
merupakan salah satu pilar keutamaan bagi pengembangan pendidikan karakter yang
utuh dan menyeluruh.